Pariwisata adalah salah satu sektor yang disebut-sebut sebagai sektor yang paling siap bersaing dalam hingar bingar pasar bebas yang ada diseluruh dunia. Indonesia sudah siap bersaing di era globalilasi terutama Bali karena memiliki Kekayaan budaya, alam dan keramahan masyarakatnya menjadi modal besar pariwisata yang layak dikembangkan dan dikunjungi wisatawan. Potensi alam semisal danau, laut, hutan tropis, gunung hingga taman nasional merupakan potensi alam yang potensial untuk menjadi daya tarik, kekayaan dan adat adat yang tidak dapat dijumpai di neraga manapun menjadikan Indonesia terutama bali sebagai salah satu pulau yang diperhitungkan pada sektor pariwisata. Keunikannnya menjadikan Bali bak surga kecil yang jatuh ke bumi. Kondisi inilah yang menjadikan Bali begitu terkenal di mata dunia. dan para pekerja pun sudah mulai meningkat dan bersertifikasi yang artinya sudah siap bersaing di era globalisasi.
Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan dari berbagai negara dunia. Kepala Dinas Pariwisata Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra mengatakan hal yang perlu dicermati pelaku pariwisata adalah rata-rata lama tinggal atau length of stay wisatawan yang masih berkisar 10,8 hari berdasarkan data Kementerian Pariwisata.
Perhitungan tersebut berdasarkan waktu kedatangan dan keberangkatan wisatawan di pintu masuk utama Bali. Namun, jika dikombinasikan dengan data BPS yang menyebut lama tamu menginap di hotel berbintang di Bali saat ini diperkirakan hanya berkisar 3-4 hari, sehingga masih ada selisih yang dicatat Kementerian Pariwisata.
tapi jika sudah siap dan mantap bersaing di era globalilasi maka bali pendapatkan support dari masyarakatnya dengan cara :
- Tidak Perlu Takut dan Lihat Peluang
Dikutip dari binaswadaya.org, menurut Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, persiapan Indonesia sudah 88%. Indonesia tidak perlu takut menghadapi MEA 2015, karena kebebasan arus barang sebenarnya sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, Indonesia memiliki kekuatan tersendiri seperti memiliki tingkat ekonomi terbesar, jumlah penduduk terbanyak dari total 600 juta penduduk ASEAN (39%), dan memiliki Gross Domestic Product (GDP) paling tinggi. Di sisi lain, Indonesia memiliki keragaman yang sangat luas yang membuat pasar Indonesia menjadi kian menarik,Dari sisi suplai dan produksi, Indonesia mempunyai sumber daya alam, kemampuan buruh, investasi yang pesat dan basis produksi. Perlu diingat, Indonesia juga mempunyai kemapanan secara sosial politik dan negara demokrasi yang besar.
Masih menurut Bayu, tantangan terbesar MEA adalah bagaimana kita harus menyerang, bukan bertahan. Jika hanya bertahan dalam artian hanya berbisnis di dalam negeri saja, maka daya saing kita akan segitu-gitu saja. Bukalah cakrawala bahwa di luar sana banyak peluang yang masih bisa digarap dan saya yakin orang-orang diindonesia bisa terutama dibali yang kaya akan keindahan alamnya - asah kemampuan profesi dan kuasai perbedaan bahasa
Oleh karena itu, sudah selayaknya generasi muda Indonesia tak hanya menempuh pendidikan secara asal-asalan atau seperti istilah banyak anak muda,yang penting lulus. Karena sejatinya, pendidikan terutama pendidikan tinggi bukan tempat untuk sekadar mendapat nilai, tapi juga tempat kita menimba ilmu dan mengasah kemampuan professional agar menjadi lulusan yang siap kerja. Perbanyak wawasan dan asah kemampuan kita di bidang yang kita gemari untuk memudahkan kita mencapai karir yang diimpikan.
Selain itu, dengan adanya persaingan global, salah satu pembatas utama yang kerap kali menghalangi adalah perbedaan bahasa. Untuk itu, selain menguasai bahasa Indonesia dengan baik, kita juga dituntut untuk mampu berkomunikasi menggunakan bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Cina, dan Korea. Sehingga, tak ada salahnya jika kita mulai berlatih menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain untuk semakin memantapkan kemampuan kita dalam menembus persaingan global.
3 Berwirausaha untuk Produk Dalamnegeri
salah satu cara jitu lainnya untuk unggul menghadapi persaingan dalam MEA adalah membuka usaha baru atau berwirausaha karena selain dapat membuka banyak lowongan pekerjaan, kita juga dapat mengangkat perekonomian Indonesia di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Data lain menunjukan, dengan jumlah 55 juta, sektor UKM mampu menyerap 101,72 juta tenaga kerja atau 97,3 persen dari total tenaga kerja Indonesia.
Dengan berbagai data itu, tak bisa dipungkiri bahwa sektor UMKM adalah sektor penggerak ekonomi Indonesai yang utama. Oleh karenanya, pengembangan UMKM sangatlah penting guna memenuhi kebutuhan pasar domestik yang menjadi sasaran para negara-negara ASEAN saat MEA berlaku.



















